KAREBAKALTIM.com, SANGATTA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim menggelar Pelatihan hygiene sanitasi bagi pengelola dan operator depo air minum, di D’lounge Room, Hotel Royal Victoria, Sangatta Utara, Rabu (07/06/2023).
Layaknya udara dan makanan, air merupakan faktor krusial yang sangat diperlukan oleh tubuh manusia untuk menunjang kelangsungan hidupnya. Tanpa air, manusia tidak akan bertahan hidup lama, oleh karenanya penting untuk memastikan kondisi air yang akan dikonsumsi itu aman untuk diminum.
Kepala Dinas Kesehatan Kutim melalui Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Hidup, Irma Aryani menghimbau kepada pengusaha depo air minum, untuk senantiasa menjaga dan menjamin kualitas dari air minum yang diperjual belikan, sehingga aman untuk dikonsumsi oleh konsumen. Membuka suatu usaha sambungnya, tidak hanya profit yang menjadi tolak ukur. Namun, keamanannya juga harus dikedepankan.
“Apabila ada kasus diare dan itu penyebabnya dari depo kita, itu akan sangat merugikan konsumen. Secara tidak langsung juga akan mempengaruhi perekonomian dari pengusaha itu sendiri,” ungkap Irma dihadapan 31 peserta yang rata-rata adalah pengusaha depo air minum di wilayah Kutai Timur.
Selain itu, terkait dengan perizinan, dirinya mengatakan hal ini masih menjadi kendala yang harus sesegera mungkin diatasi. Dikatakannya, masih banyak depo air minum di Kutai Timur yang sudah beroperasi, namun belum memiliki izin usaha.
“Dengan menjamurnya depo air minum sekarang, yang di data kami ada sekitar 364 depo. Tapi yang baru itu banyak sekali, mungkin 50 persennya belum terdaftar di Dinas Kesehatan,” bebernya.
Ia menjelaskan selain wajib memiliki izin usaha dari Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), pihak depo juga wajib mengirimkan sample untuk diuji di laboratorium. Sama seperti perizinan, sampling ini termasuk krusial dan harus rutin dilakukan (minimal sebulan sekali).
“Adapun kriteria layak tidaknya seperti kelayakan tempat, hygiene per orangan dan kualitas airnya. Nah, untuk kualitas airnya ditentukan dengan pemeriksaan (sampling) mikrobiologi dan kimianya. Jadi seandainya E.colli nya nol itu sudah layak untuk dikonsumsi,” terangnya. (ADV)
