KAREBAKALTIM.com – Tingginya angka stunting di Bontang Lestari menjadi perhatian serius. Salah satu penyebab utamanya yang diidentifikasi adalah pernikahan dini. Anggota Komisi A DPRD Kota Bontang, Muhammad Yusuf, menilai pernikahan dini berkontribusi signifikan terhadap tingginya angka stunting. Kondisi ini diperparah dengan banyaknya pasangan muda yang bercerai, yang berdampak pada kesehatan anak.
Yusuf mengimbau agar peran aktif dari berbagai pihak, baik pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat, dibutuhkan untuk mengatasi pernikahan dini sebagai salah satu cara mengurangi stunting.
“Stunting tidak bisa ditangani oleh satu pihak saja. Pemerintah perlu sinergi dengan masyarakat dan kalangan keagamaan,” jelas Yusuf, Senin (28/10/2024).
Ia menambahkan bahwa aturan pernikahan usia minimal 17 tahun perlu ditegakkan untuk mencegah pernikahan dini. Menurutnya pernikahan dini di usia yang sangat muda, bahkan ada yang di usia 12 tahun, berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi pasangan muda yang baru menikah.
“Banyak pasangan muda belum memiliki penghasilan tetap, sehingga anak-anak mereka berisiko mengalami kekurangan gizi,” ungkap Yusuf.
Oleh karena itu, ia berharap tokoh agama lebih proaktif dalam memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai risiko pernikahan dini. Asisten II Bidang Administrasi Pembangunan Sekretariat Daerah Bontang, Lukman, menegaskan bahwa pernikahan anak menjadi prioritas nasional sesuai arahan Presiden.
Berdasarkan data Pengadilan Agama Bontang, jumlah dispensasi nikah telah menurun, dari 71 kasus pada 2020 menjadi 21 kasus pada 2023. “Kami berharap angka ini bisa terus turun hingga nihil kasus dispensasi,” ungkap Lukman. Ia juga menekankan pentingnya edukasi masyarakat mengenai risiko pernikahan dini dan manfaat menunda pernikahan.
Lukman menambahkan, pemerintah melalui dinas terkait akan memperluas kampanye dan penyuluhan mengenai bahaya pernikahan dini untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. “Kita akan gelar sosialisasi di wilayah dengan angka pernikahan dini yang masih tinggi,” jelasnya.
Selain itu, Yusuf menekankan pentingnya edukasi asupan gizi dan kesehatan bagi pasangan muda untuk mencegah stunting. Kasus stunting yang tinggi di Bontang telah menjadi masalah yang harus segera ditangani. Yusuf dan Lukman optimis bahwa kolaborasi pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat dapat mengatasi pernikahan dini demi menciptakan lingkungan yang sehat bagi anak-anak di Bontang.
Dengan sinergi dan kesadaran masyarakat yang meningkat, diharapkan masyarakat Bontang dapat menghindari pernikahan dini dan menciptakan masa depan yang lebih sehat bagi anak-anak.
Penulis : Aji
