KAREBAKALTIM.com, SAMARINDA — Terminal Dalam Provinsi Tipe B Sungai Kunjang Samarinda mulai melakukan berbagai persiapan menghadapi arus mudik Lebaran 2026. Pihak terminal menyiapkan sekitar 60 hingga 70 unit bus setiap hari untuk melayani penumpang ke berbagai tujuan di Kalimantan Timur dan sekitarnya.
Koordinator Satuan Pelaksanaan Terminal Sungai Kunjang Dishub Samarinda, Eko Novianto, mengatakan jumlah tersebut sudah termasuk bus cadangan yang disiapkan untuk mengantisipasi lonjakan penumpang mendekati hari raya.
“Di Terminal Sungai Kunjang kami sudah menyiapkan sekitar 60 sampai 70 bus setiap hari. Itu sudah termasuk dengan bus cadangan,” kata Eko saat ditemui di terminal, Jumat (13/3/2026).
Meski demikian, hingga saat ini jumlah penumpang masih terpantau normal seperti hari biasa. Lonjakan penumpang diperkirakan baru terjadi mendekati Lebaran, khususnya sekitar H-7.
“Untuk penumpang sampai sekarang belum ada peningkatan, masih seperti hari-hari biasa. Biasanya mulai ramai itu sekitar H-7 Lebaran, terutama keberangkatan pagi,” ujarnya.
Saat ini rata-rata keberangkatan dari Terminal Sungai Kunjang berkisar 30 hingga 35 bus per hari menuju berbagai rute.
Beberapa rute yang dilayani dari terminal tersebut antara lain Samarinda–Balikpapan, Samarinda–Kota Bangun, Samarinda–Bongan, Samarinda–Kembang Janggut, Samarinda–Grogot, Samarinda–Melak, Samarinda–Handil, dan Samarinda–Samboja.
Untuk memastikan keselamatan perjalanan, pemeriksaan kelayakan kendaraan atau ramp check juga telah dilakukan. Bus yang tidak memenuhi standar langsung dilarang beroperasi.
“Kalau bus tidak sesuai atau tidak layak, langsung ditempel stiker merah di kaca. Artinya tidak boleh beroperasi sampai diperbaiki,” kata Eko.
Terminal Sungai Kunjang sendiri mulai beroperasi sejak pagi hari. Aktivitas keberangkatan bus biasanya dimulai sekitar pukul 05.30 WITA hingga malam hari, menyesuaikan jadwal masing-masing rute.
Namun demikian, Eko mengakui aktivitas terminal belum sepenuhnya ramai karena masih adanya fenomena terminal bayangan, yakni penumpang yang memilih menunggu bus di luar area terminal.
Menurut Eko, ada beberapa faktor yang menyebabkan penumpang enggan masuk terminal, salah satunya karena lokasi rumah yang berada di jalur bus sehingga lebih memilih menunggu di pinggir jalan.
“Ada juga anggapan kalau masuk terminal harus bayar retribusi, padahal tidak selalu begitu. Selain itu angkutan penghubung dari terminal ke beberapa kawasan juga masih terbatas,” ujarnya.
Selain itu, kondisi fasilitas terminal yang dinilai belum optimal juga memengaruhi minat penumpang untuk masuk ke area terminal.
Eko berharap rencana revitalisasi terminal dapat segera terealisasi agar fasilitas menjadi lebih nyaman dan menarik bagi penumpang.
“Kalau terminalnya sudah direnovasi seperti di Sangatta atau Bontang, kemungkinan besar penumpang akan masuk ke terminal karena fasilitasnya lebih baik,” katanya.
Di sisi lain, pengelola terminal memastikan kapasitas penumpang di dalam bus tetap dibatasi sesuai jumlah kursi demi keselamatan perjalanan.
“Kalau kapasitas bus 40 orang, ya hanya 40 penumpang. Tidak boleh ada yang berdiri atau duduk di lorong,” pungkasnya.
Posko angkutan Lebaran di Terminal Sungai Kunjang juga direncanakan mulai beroperasi 13 Maret hingga 30 Maret 2026 sebagai bagian dari pengawasan arus mudik dan arus balik Lebaran tahun ini.(RAP)
