KAREBAKALTIM.com, JAKARTA – Satu per satu pemimpin dan mantan pemimpin Iran dilaporkan tewas akibat serangan AS-Israel. Selain Ayatollah Ali Khamenei dan keluarganya, Mantan Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, juga dilaporkan tewas dalam dalam serangan udara tersebut.
Kantor Berita Buruh Iran pada Minggu (1/3), melansir Jerusalem Post dikutip dari okezonecom. Dilaporkan, serangan tersebut menghantam kediaman Ahmadinejad di Narnak, timur laut Teheran. Serangan itu menewaskan presiden Iran periode 2005-2013 tersebut dan beberapa pengawal, klaim media tersebut.
Serangan di Narnak kemungkinan terjadi pada Sabtu malam, menurut laporan media internasional. Sebelum menjadi presiden, Ahmadinejad menjabat sebagai gubernur Provinsi Ardabil dan Wali Kota Teheran.
Setelah dua periode menjabat, ia diangkat oleh pemimpin tertinggi saat itu, Ayatollah Ali Khamenei, ke Dewan Penentu Kebijakan. Sebelumnya, Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang memimpin Republik Islam selama lebih dari tiga dekade melalui perang, sanksi, gejolak internal, serta meningkatnya konfrontasi dengan Amerika Serikat dan Israel, telah meninggal dunia pada usia 86 tahun. Khamenei meninggal dunia akibat serangan militer Amerika Serikat dan Israel di wilayah Teheran.
Media pemerintah Iran sebagaimana diberitakan Gulfnews melaporkan kematian Khamenei pada Minggu (1/3) dini hari setelah operasi militer gabungan besar Amerika Serikat dan Israel yang menargetkan lokasi-lokasi di dalam dan sekitar Teheran.
Presiden AS Donald Trump beberapa jam sebelumnya mengatakan bahwa Khamenei tewas dalam serangan tersebut.
Menurut kantor berita semi-resmi Iran, Fars News Agency, putri Khamenei, menantunya, seorang cucu, dan menantu perempuannya juga tewas dalam serangan itu, mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya. Otoritas Iran menyatakan masa berkabung nasional selama 40 hari dan libur nasional selama tujuh hari.
Kematian Khamenei menandai berakhirnya sebuah era bagi Republik Islam yang ia warisi dari Ruhollah Khomeini pada 1989 dan kemudian ia bentuk ulang menjadi negara teokrasi yang sangat terkontrol, ditopang oleh Garda Revolusi yang kuat.
Masa kekuasaannya mencakup periode pasca-Perang Iran-Irak, gelombang protes domestik yang berulang, naik-turunnya kekuatan proksi regional, serta kebuntuan nuklir berkepanjangan dengan Barat. (int/bs)
