KAREBAKALTIM.com, BONTANG — PT Pertamina (Persero) memastikan pasokan energi nasional tetap aman menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026. Langkah penguatan pasokan dilakukan melalui penambahan cadangan energi seperti bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied petroleum gas (LPG).
Cadangan energi nasional saat ini berada di atas batas minimum yang ditetapkan pemerintah, yaitu sekitar dua puluh satu hingga dua puluh tiga hari. Pada beberapa jenis produk, cadangan bahkan dapat mencapai tiga puluh lima hari.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron menjelaskan, batas cadangan tersebut bukan berarti stok bahan bakar minyak akan habis setelah periode itu. Cadangan tetap dijaga melalui penambahan pasokan secara berkelanjutan.
“Acuan cadangan pemerintah menjadi ambang batas pengamanan yang harus selalu dipertahankan. Selama distribusi dan suplai berjalan normal, stok terus mengalami pergerakan, sehingga Pertamina terus menjaga cadangan di atas level minimum. Ini menjadi langkah mitigasi risiko dan bentuk komitmen Pertamina dalam menjaga ketahanan energi,” kata Baron Jumat (6/3/2026) dikutip dari suaradotcom.
Kata dia, pengawasan pasokan dilakukan melalui sistem Pertamina Digital Hub yang memantau distribusi energi secara terintegrasi dari sektor hulu hingga hilir. Sistem ini membantu Pertamina menjaga ketersediaan cadangan energi agar tetap stabil setiap waktu.
Pada sektor hulu, lanjutnya, operasional dipastikan berjalan sesuai standar sehingga target produksi setiap entitas dapat tercapai. Sementara pada sektor hilir, Pertamina memantau pergerakan kapal pengangkut produk maupun minyak mentah serta proyeksi kedatangannya untuk diolah di enam kilang milik Pertamina.
Teknologi digital juga digunakan untuk memonitor ketersediaan bahan bakar minyak di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Pertamina dapat memantau pergerakan mobil tangki hingga jumlah stok di setiap SPBU.
“Melalui satu dashboard terpadu, Pertamina dapat mengidentifikasi pergerakan konsumsi bahan bakar minyak dan liquefied petroleum gas di setiap wilayah, sehingga langkah antisipatif dapat dilakukan lebih dini apabila terjadi peningkatan permintaan, kondisi cuaca ekstrem, maupun dinamika global yang berpotensi memengaruhi rantai pasok energi,” ujarnya. (int)
