KAREBAKALTIM.com, Penajam Paser Utara – Bupati Penajam Paser Utara (PPU) Mudyat Noor menegaskan pentingnya kontribusi nyata dari Pertamina terhadap daerah penghasil minyak, khususnya Kabupaten PPU yang selama ini dinilai belum merasakan dampak signifikan dari aktivitas industri migas berskala besar di wilayah PPU.
Hal tersebut disampaikan Mudyat Noor usai menghadiri kegiatan bersama jajaran Pertamina, termasuk Kilang Pertamina Balikpapan, dalam rangka peluncuran program Corporate Social Responsibility (CSR) berupa pemasangan rumpon bagi nelayan, Rabu (14/1).
“Kalau dihitung-hitung, Penajam Paser Utara ini sebenarnya merupakan salah satu penghasil minyak terbesar di Indonesia. Produksi RU V saja saat ini mencapai sekitar 360 ribu barel per hari, ditambah kapasitas penampungan minyak di Lawe-Lawe yang mencapai sekitar 7,6 juta barel,” ujar Mudyat Noor.
Namun demikian, ia menyebut besarnya produksi dan penampungan minyak tersebut belum sepenuhnya memberikan dampak langsung terhadap daerah, khususnya dari sisi kesejahteraan masyarakat dan pembangunan wilayah.
Menurutnya, keberadaan industri migas tetap membawa sejumlah dampak, terutama terhadap lingkungan di kawasan PPU, termasuk wilayah pesisir dan permukiman sekitar area operasional.
“Tentu tetap ada dampak-dampak yang dirasakan, terutama terhadap lingkungan. Ini yang perlu menjadi perhatian bersama,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Mudyat Noor juga mengungkapkan bahwa pihaknya sempat berdiskusi dengan jajaran Pertamina terkait berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Di antaranya isu banjir di kawasan Lawe-Lawe, persoalan air bersih, hingga peningkatan pelayanan publik bagi warga.
“Tadi kami berbincang ringan, mulai dari persoalan banjir di Lawe-Lawe, isu air bersih, sampai pelayanan publik di masyarakat yang perlu menjadi perhatian kawan-kawan Pertamina,” jelasnya.
Ia menyoroti persoalan air bersih sebagai isu krusial, mengingat sumber bahan baku air PDAM PPU berada di wilayah operasional Pertamina. Oleh karena itu, Pemkab PPU menilai perlu adanya koordinasi dan komitmen yang lebih kuat dari perusahaan.
Sebagai tindak lanjut, Mudyat Noor menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten PPU akan segera melayangkan surat resmi kepada Kilang Pertamina Balikpapan untuk meminta waktu audiensi dan diskusi lebih mendalam.
“Hari ini insyaallah kami akan bersurat ke Kilang Pertamina Balikpapan untuk meminta waktu diskusi dan presentasi terkait beberapa hal, termasuk kawasan yang menjadi sumber bahan baku air bersih,” katanya.
Ia juga berharap rencana penyatuan atau peleburan sejumlah entitas Pertamina, termasuk RU V, dapat memperjelas koordinasi dan tanggung jawab perusahaan ke depan. Selama ini, menurutnya, sering terjadi tumpang tindih kewenangan antarunit usaha migas.
“Mudah-mudahan dengan penyatuan ini koordinasi menjadi lebih mudah. Selama ini kita sering bingung, siapa yang bertanggung jawab, apakah Kilang Pertamina Balikpapan, RU V, PHKT, PHI, PHM, atau SKK Migas,” ungkapnya.
Mudyat Noor optimistis, hasil diskusi lanjutan nantinya dapat membuka peluang dampak positif yang lebih besar bagi Kabupaten PPU, baik dari sisi lingkungan, infrastruktur, maupun kesejahteraan masyarakat.
“Insyaallah mungkin minggu depan ini bisa menjadi jalan agar ke depan Penajam mendapatkan dampak positif yang lebih nyata,” pungkasnya. (Bey)



