KAREBAKALTIM.com, Penajam Paser Utara – Dinas Kesehatan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengungkap hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan dari program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang diproduksi oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Waru.
Pemeriksaan tersebut dilakukan setelah puluhan siswa di Kecamatan Waru dilaporkan mengalami keluhan kesehatan usai menyantap menu MBG pada Rabu (11/2/2026) lalu.
Kepala Dinas Kesehatan PPU, dr. Jansje Grace Makisurat, menjelaskan bahwa hasil uji laboratorium menunjukkan adanya kontaminasi kuman pada sebagian sampel makanan yang diuji.
“Uji laboratorium sudah keluar. Beberapa sampel memang ditemukan adanya kuman,” ujar Grace, Kamis (12/3).
Ia menyebutkan, dari satu paket menu MBG yang diperiksa, terdapat dua sampel yang terdeteksi mengandung kuman, salah satunya pada menu puding.
Menurutnya, kontaminasi tersebut diduga terjadi karena makanan terlalu lama berada di udara terbuka sehingga memungkinkan bakteri masuk.
“Di udara saja kumannya banyak, jadi kemungkinan makanan tidak tertutup dengan baik,” jelasnya.
Sampel makanan tersebut diperiksa di Laboratorium Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur di Samarinda. Berdasarkan hasil analisis, keberadaan kuman itu diduga menjadi salah satu faktor yang memicu keluhan kesehatan pada sejumlah siswa setelah mengonsumsi makanan tersebut.
Grace menuturkan bahwa gejala yang dialami para siswa bervariasi, mulai dari muntah, diare hingga sesak napas. Namun, kondisi tersebut sangat bergantung pada daya tahan tubuh masing-masing anak.
“Gejala yang muncul berbeda-beda pada setiap anak. Ada yang muntah, diare, bahkan sesak napas, tergantung kondisi tubuh mereka,” terangnya.
Ia juga menjelaskan bahwa keluhan sesak napas dialami oleh siswa yang memiliki riwayat penyakit tertentu, seperti asma, sehingga memicu kambuhnya penyakit tersebut.
Meski demikian, Grace memastikan seluruh siswa yang sempat mengalami keluhan telah pulih pada hari yang sama setelah mendapat penanganan medis. Tidak ada siswa yang sampai harus dirujuk ke rumah sakit.
“Semua sudah pulang di hari itu juga. Ada satu yang datang malam, tapi setelah diperiksa juga diperbolehkan pulang. Tidak ada yang dirujuk ke rumah sakit,” katanya.
Dinas Kesehatan PPU juga telah memberikan pembinaan kepada pihak SPPG Waru agar lebih memperhatikan standar keamanan dan kebersihan makanan dalam pelaksanaan program MBG.
Grace menegaskan bahwa keputusan terkait operasional dapur SPPG Waru sepenuhnya berada di tangan Badan Gizi Nasional (BGN). Dinkes PPU hanya memberikan rekomendasi berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan.
“Kalau dari kami hanya memberikan rekomendasi. Keputusan apakah bisa dibuka kembali atau tidak ada di Badan Gizi Nasional,” ujarnya.
Ia menambahkan, jika pihak SPPG Waru berencana kembali menjalankan operasional, maka Dinkes PPU akan melakukan pemeriksaan ulang untuk memastikan seluruh standar kesehatan dan keamanan pangan telah dipenuhi.
“Kalau nanti mau buka lagi harus berkoordinasi dengan kami. Kami akan mengecek kembali apakah sudah siap atau belum,” pungkasnya. (Bey)
