KAREBAKALTIM.com, BONTANG – Luas genangan banjir di Kota Bontang menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data 2019–2026, total genangan banjir tercatat turun dari 515,30 hektare pada 2019 menjadi 100,44 hektare pada 2026.
Namun, data tahun 2026 tersebut masih bersifat sementara karena hanya mencakup kejadian banjir hingga Februari 2026.
Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Bidang Pembangunan Perekonomian, Infrastruktur dan Kewilayahan Bapperida Kota Bontang, Noni Agatha, saat ditemui di ruangannya.
“Data 2026 ini belum final, hanya menggambarkan banjir kiriman pada Februari. Jadi belum mencerminkan kondisi tahunan,” ujarnya.
Sementara itu, data tahun 2019 hingga 2025 merupakan luas genangan banjir terbesar dalam satu tahun. Jika terjadi beberapa kali banjir, yang dicatat adalah kejadian dengan dampak paling luas.
Pada 2025, luas genangan sempat meningkat menjadi 126,31 hektare dibanding 106,85 hektare pada 2024.
“Kenaikan ini terjadi meski sebelumnya tren penurunan berlangsung sejak 2019,” ucapnya.
Secara wilayah, Bontang Utara masih menjadi daerah dengan genangan terbesar, meski mengalami penurunan dari 313,69 hektare pada 2019 menjadi 78,85 hektare pada 2026.
Bontang Selatan turun dari 100,78 hektare menjadi 5,98 hektare, sedangkan Bontang Barat dari 100,83 hektare menjadi 15,61 hektare.
Lebih lanjut, ia juga mengungkapkan jika pihaknya menggunakan analisis peta dengan metode tumpang tindih (overlay) untuk menentukan wilayah prioritas penanganan, terutama lokasi yang berulang kali terdampak banjir.
“Adapun anggaran penanganan banjir pada 2025 mencapai sekitar Rp250 miliar. Tapi, dampaknya belum dapat dievaluasi saat ini dan baru akan terlihat setelah data banjir 2026 tercatat secara lengkap,” tukasnya.(ADV)
