KAREBAKALTIM.com, Samarinda – Persoalan air bersih kembali menjadi sorotan di Kota Samarinda, tepatnya di kawasan Perumahan Bukit Erlisa, Jalan Kadrie Oening. Sekitar 30 rumah di RT 22 hingga kini belum teraliri jaringan Perusahaan Daerah Air Minum. (PDAM) meski sudah lebih dari satu dekade menunggu.
Andi Purnawarman, warga setempat yang juga dosen Hubungan Internasional Universitas Mulawarman, mengungkapkan kondisi tersebut sudah lama menjadi beban masyarakat.
“Di Bukit Erlisa itu sudah sekitar 10 tahun tidak teraliri air PDAM. Pipa memang sempat dipasang, tapi meteran ke rumah warga tidak ada. Alasannya karena tidak ada booster. Akhirnya warga terpaksa membeli air sendiri, rata-rata sampai Rp500 ribu hingga Rp1 juta per bulan,” ujarnya, Senin (16/9/2025) siang.
Andi menambahkan, sebagai kota penyangga IKN dan kota peradaban, Samarinda seharusnya mampu menjamin ketersediaan layanan dasar masyarakat, termasuk air bersih.
“Kalau kita mau jadikan Samarinda ini kota peradaban, tentu hal-hal seperti ini harus jadi perhatian. Air bersih adalah kebutuhan pokok yang mestinya sudah tuntas di kota,” tegasnya.
Menanggapi keluhan tersebut, Wakil Wali Kota Samarinda Saefuddin Zuhri menyatakan akan segera meminta data detail lokasi warga yang belum terlayani.
“Silakan sampaikan RT berapa, rumah mana saja, supaya bisa kami cek. Saya juga prihatin mendengar ada warga yang tidak dapat air. Padahal program kami bersama Wali Kota adalah memastikan akhir periode nanti, insyaallah, 100 persen warga Samarinda teraliri air bersih,” ujar Saefuddin.
Menurutnya, persoalan air bersih memang menjadi salah satu program prioritas Pemkot Samarinda di periode kedua kepemimpinan Andi Harun.
“Drainase sudah kita benahi, dan untuk air bersih targetnya jelas: tidak ada lagi kekurangan air di Samarinda. Program ini sudah tertuang dalam visi-misi pemerintah,” tegasnya.
Warga berharap tindak lanjut segera direalisasikan, agar kebutuhan dasar yang sudah lama terabaikan bisa segera terpenuhi. (Bey)



