KAREBAKALTIM.com, Bontang – Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bontang mencatat sebanyak 22 kejadian evakuasi ular selama Oktober 2025. Seluruh penanganan berlangsung aman tanpa menimbulkan korban jiwa. Data ini menunjukkan kesiapsiagaan petugas dalam menangani potensi ancaman satwa liar di kawasan permukiman dan fasilitas umum.
Kepala Dinas Disdamkartan Bontang, Amiluddin, mengungkapkan bahwa jenis ular yang dievakuasi bervariasi, mulai dari ular daun, piton, hingga kobra berbisa.
“Alhamdulillah, dari seluruh kejadian tidak ada korban. Ini berkat respons cepat tim dan kepatuhan warga untuk tidak bertindak sendiri serta segera melapor,” ujarnya saat diwawancarai, Senin (3/11/2025).
Wilayah dengan angka kejadian tertinggi berada di Kelurahan Api-Api dan Loktuan, masing-masing empat kasus. Disusul Gunung Telihan (tiga kejadian), Berebas Tengah (dua), Bontang Lestari (dua), Gunung Elai (dua), dan Bontang Kuala (dua). Adapun satu kejadian masing-masing tercatat di Tanjung Laut Indah, Berbas Pantai, dan Kanaan.
Soal durasi penanganan, Amiluddin menjelaskan waktu tercepat hanya lima menit, sementara yang terlama mencapai 55 menit, bergantung situasi lapangan seperti akses lokasi, posisi ular, serta karakter hewan yang dievakuasi.
“Ular yang bersembunyi di atap, plafon, atau semak membutuhkan teknik dan waktu lebih lama. Keselamatan menjadi prioritas utama,” jelasnya.
Ia juga mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama di wilayah yang berdekatan dengan area hijau, drainase terbuka, atau tumpukan material.
“Jika melihat ular, jangan panik dan jangan mencoba menangkap sendiri. Hubungi petugas agar ditangani profesional,” tegasnya.
Menurut Amiluddin, peningkatan interaksi manusia dengan satwa liar menjadi tantangan perkotaan, sehingga edukasi dan kesiapsiagaan perlu diperkuat. Disdamkartan Bontang memastikan siaga 24 jam untuk penanganan kebakaran, penyelamatan, maupun evakuasi satwa berbahaya.
Dengan capaian ini, Disdamkartan Bontang kembali menegaskan komitmennya menjaga keselamatan warga. Kerja cepat, terukur, dan kolaboratif menjadi kunci keberhasilan menekan risiko kejadian berbahaya, sekaligus memberi rasa aman bagi masyarakat Kota Bontang. (Adv)



