KAREBAKALTIM.com, Bontang – Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkartan) Kota Bontang merilis data rekapitulasi kejadian kebakaran sepanjang tahun 2025 hingga bulan Oktober. Data ini menunjukkan peningkatan kewaspadaan yang harus dipertimbangkan masyarakat, di mana korsleting listrik menjadi pemicu utama dari total 49 kasus kebakaran yang terjadi. Kepala Disdamkartan Bontang Amiluddin membenarkan temuan tersebut.
“Total kejadian kebakaran dari Januari hingga Oktober 2025 adalah 49 kasus. Dari jumlah tersebut, pemicu yang paling dominan adalah korsleting listrik dengan total 23 kasus. Ini setara dengan hampir setengah dari seluruh kejadian yang kami tangani tahun ini,” tegasnya, Senin (3/11/2025).
Selain korsleting listrik, penyebab kebakaran lainnya yang signifikan meliputi Kelalaian (8 kasus), Kebakaran Regulator Tabung Gas/Gas Kompor (8 kasus), Kerusakan Komponen (Peralatan) (7 kasus), dan Pembakaran dengan sengaja (arson) (7 kasus).
Secara rinci, Disdamkartan mencatat 7 kejadian kebakaran selama bulan Oktober 2025. Dari 7 kasus di bulan Oktober tersebut, 4 kasus disebabkan oleh dugaan hubungan arus pendek (tegangan listrik) atau korsleting listrik, yang melanda Freezer Ice Cream Toko, Kedai Burger Bangor, Instalasi Listrik di atas plafon, dan Mesin Generator.
Satu kasus di bulan Oktober dipicu oleh dugaan kebocoran kran bensin pada kendaraan motor, satu kasus karena didduga kompor yang ditinggal pada saat memasak (kelalaian), dan satu kasus lainnya karena perbuatan oknum (pembakaran dengan sengaja) yang menyebabkan kebakaran lahan.
Jenis kejadian kebakaran yang paling banyak ditangani secara kumulatif hingga Oktober 2025 adalah:
• Kebakaran Kabel Listrik (8 kasus)8.
• Kebakaran Regulator Tabung Gas/Gas Kompor (8 kasus)9.
• Rumah Tempat Tinggal (5 kasus)10.
• Ruko/Gedung/Pasar/Warung/Tempat Penampungan (5 kasus)11.
• Kebakaran Lahan (5 kasus)12.
• Kebakaran Kendaraan (5 kasus)13.
Dampak dari 49 kejadian kebakaran hingga Oktober 2025 mencatat nihilnya korban meninggal dunia. Namun, tercatat adanya 4 korban mengalami gangguan pernapasan dan 3 korban mengalami luka. Total kerugian mencakup 257 meter persegi area permukiman/bangunan dan 1,28 hektare hutan/lahan terbakar. Meskipun demikian, Amiluddin mengapresiasi kinerja timnya.
“Kami mengerahkan total 915 personel dan 105 unit armada sepanjang tahun ini. Yang patut disyukuri, dalam 49 kasus yang ada, semua berhasil kami tangani dengan waktu respons (respon time) yang tercapai,” ungkapnya.
Waktu tanggap tercepat pada bulan Oktober adalah 6 menit. Secara geografis, wilayah Kelurahan Api-Api menjadi area dengan kasus kebakaran tertinggi, yaitu 6 kejadian, diikuti oleh Berbas Tengah, Bontang Lestari, dan Tanjung Laut Indah, masing-masing 5 kejadian.
Amiluddin menghimbau agar masyarakat Kota Bontang lebih waspada terhadap instalasi listrik. “Periksa secara berkala instalasi listrik di rumah dan tempat usaha. Jangan tinggalkan kompor atau peralatan masak saat menyala, dan hindari praktik pembakaran liar yang dapat memicu kebakaran lahan. Keselamatan adalah prioritas kita bersama,” tutupnya. (Adv)




