KAREBAKALTIM.com, BONTANG – Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni menegaskan pentingnya konsistensi dalam menjaga kebersihan pasar, bukan hanya saat inspeksi mendadak (sidak).
Hal ini disampaikan saat ia bersama Wakil Wali Kota Agus Haris melakukan tinjauan lapangan, Selasa (17/3/2026).
Dalam monitoring tersebut, Neni menemukan masih banyak pedagang yang belum disiplin memilah sampah. Padahal, tempat sampah induk telah disediakan dalam kondisi terpilah.
Ia menyoroti kebiasaan sebagian pihak yang hanya menjaga kerapian saat ada kunjungan pejabat.
“Kalau hanya rapi saat ada wali kota, itu tidak boleh. Harus jadi kebiasaan,” tegasnya.
Menurut Neni, pengelolaan sampah yang baik merupakan bagian dari pola hidup bersih dan sehat, sekaligus menjadi indikator penting dalam penilaian pemerintah pusat, termasuk dari Kementerian Lingkungan Hidup terkait aspek kebersihan kota.
Ia menyebut, salah satu kekurangan yang masih ditemukan adalah minimnya kesadaran pedagang dalam memilah sampah sejak dari sumber. Sampah organik dan non-organik masih kerap tercampur, meskipun fasilitas sudah tersedia.
“Kita sudah punya tempat sampah induk yang terpilah, tapi di lapangan masih tercampur. Ini tidak boleh,” ujarnya.
Selain itu, Neni juga menyoroti kurangnya fasilitas tempat sampah di beberapa titik pasar. Di bagian belakang Pasar Taman Citra Mas Loktuan misalnya, ia menemukan hanya tersedia satu jenis tempat sampah tanpa klasifikasi.
“Harus ada pemilahan sampah organik, anorganik, dan B3 (bahan berbahaya dan beracun), agar pedagang dan pengunjung tidak membuang sembarangan,” jelasnya.
Ia pun meminta pengelola pasar dan Kepala DKUMPP untuk segera melakukan evaluasi serta menambah fasilitas pendukung, sekaligus memberikan pembinaan kepada para pedagang.
Lebih lanjut, ia berharap, dengan perbaikan sistem pengelolaan sampah, pasar tradisional di Bontang dapat menjadi lebih bersih, sehat, dan nyaman bagi masyarakat.
“Kalau bersih itu kan bagus dilihat,” tukasnya.(ADV)



