KAREBAKALTIM.com, Penajam Paser Utara – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah pusat belum sepenuhnya melibatkan petani lokal di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) sebagai pemasok bahan pangan.
Hingga kini, kebutuhan bahan baku untuk dapur umum masih dipenuhi melalui pembelian langsung di pasar konvensional.
Kepala Dinas Pertanian (Distan) PPU, Andi Trasodiharto, mengungkapkan bahwa mekanisme kemitraan petani dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memang belum berjalan. Meski demikian, pihaknya berkomitmen untuk mendorong agar petani lokal dapat ambil bagian dalam program tersebut.
“Terkait kemitraan itu sebenarnya berada di ranah Dinas Ketahanan Pangan. Namun kami tetap akan berupaya agar petani lokal bisa dilibatkan,” ujar Andi Trasodiharto, Rabu (21/1).
Ia menjelaskan, peran Dinas Pertanian selama ini lebih fokus pada aspek produksi hasil pertanian, seperti ketersediaan beras dan sayur-mayur. Menurutnya, secara kapasitas, petani di PPU dinilai mampu memenuhi kebutuhan bahan baku MBG.
“Kami yakin petani lokal sebenarnya bisa mencukupi. Contohnya seledri, tidak perlu didatangkan dari Balikpapan karena di PPU juga tersedia,” katanya.
Saat ini, Distan PPU tengah melakukan pemetaan wilayah sentra produksi pertanian, baik sayuran maupun buah-buahan. Untuk komoditas protein hewani, Andi menyebut pengembangan ayam potong juga cukup potensial.
“Produksi ayam potong juga terus berkembang. Nanti setelah produksi berjalan, pemetaan kebutuhan masing-masing SPPG akan menjadi kewenangan Dinas Ketahanan Pangan,” jelasnya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) PPU, Tohar, membenarkan bahwa hingga kini sebagian besar dapur MBG masih mengandalkan pasar konvensional dalam pengadaan bahan pangan.
“Dalam rapat koordinasi di Bank Indonesia Perwakilan Balikpapan, rata-rata pihak SPPG menyampaikan bahwa belanja bahan baku masih dilakukan langsung ke pasar,” tukas Tohar. (Bey)



