Kutai Kartanegara, KAREBAKALTIM.COM – Bunda PAUD Kabupaten Kutai Kartanegara, Maslianawati Edi Damansyah, menggelar Kelas Parenting PAUD dengan tema “Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan dan Sulingjar” di Kecamatan Loa Janan.
Kegiatan yang difasilitasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kutai Kartanegara (Disdikbud Kukar) ini sebelumnya telah dilaksanakan di 8 kecamatan, yaitu Kecamatan Loa Kulu, Tenggarong Seberang, Tenggarong, Tabang, Muara Kaman, Kenohan, Kembang janggut, dan Kota Bangun.
Seminar dan sosialiasi ini dilakukan untuk memberikan pemahaman kepada orang tua bagaimana cara mendidik anak. Sebab, pendidikan tidak hanya di sekolah, tetapi juga di lingkungan keluarga. Kemudian dalam mengatasi kasus stunting di Kabupaten Kukar, Salah satu caranya dengan menjalankan program 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Camat Loa Janan, Heri Rusnadi, menyampaikan, program 1.000 HPK telah dijalankan pemerintah kecamatan ke setiap desa-desa yang masuk wilayahnya.
Heri pun telah meminta kepada para kepala desa untuk menganggarkan pelayanan posyandu di setiap desanya. Pihak kecamatan, desa hingga tingkat RT bersama-sama bergerak menangani stunting.
“Tidak hanya di desa-desa, tapi sampai ke tingkat RT, kita sama-sama menggalang kegiatan-kegiatan, khususnya pendidikan anak usia dini dan penanganan stunting, karena Kecamatan Loa Janan menjadi lokus stunting” ujarnya.
Pihaknya menyambut baik terlaksananya seminar dan sosialiasi parenting PAUD tersebut, karena di kecamatan Loa Janan cukup banyak transisi dari PAUD ke SD.
“Mudah-mudahan ini bermanfaat bagi anak-anak kita yang akan menjalani transisi dari PAUD ke sekolah dasar nantinya,” katanya.
Ia berharap, kegiatan ini tidak hanya diselenggarakan sekali, tetapi terus berlanjut, termasuk program yang nantinya digagas Bunda PAUD kecamatan yang bekerja sama dengan bunda-bunda PAUD yang ada di desa.
Bunda PAUD Kukar, Maslianawati, anak usia nol hingga delapan tahun masih masuk dalam kategori usia dini, sehingga anak-anak sekolah dasar yang berada di kelas satu dan dua tidak harus dipaksakan bisa baca, tulis dan berhitung. Sebab, calistung merupakan kemampuan dasar yang harus dikuasai anak yang telah menginjak SD, bukan bagi anak usia dini.
Maslianawati mengatakan, keberadaan PAUD untuk mengajarkan dan melatih anak usia dini bagaimana berteman dan bersosial.
“Anak usia PAUD itu saat ini bukan lagi nol sampai enam tahun, namun nol sampai delapan tahun, sehingga anak-anak sekolah dasar yang berada di kelas satu dan dua jangan dipaksakan bisa baca, tulis dan berhitung,” ungkap Maslianawati.
Maslianawati juga mengatakan, dilakukannya seminar kelas parenting tersebut juga untuk memberikan pemahaman kepada para orang tua bagaimana mendidik anak. Sebab, pendidikan tidak hanya di sekolah, tetapi juga di lingkungan keluarga.
Dirinya juga berharap agar setiap sekolah dalam penerimaan siswa baru tidak hanya berfokus kepada siswa lulusan PAUD, namun menerima calon siswa yang telah memasuki masa usia sekolah, yaitu usia tujuh tahun dan anak-anak yang berkebutuhan khusus.
“Perlu kebersamaan pihak orang tua untuk mengatasi apa yang kita bicarakan hari ini, juga dari pihak sekolah, masyarakat dan seluruh instansi terkait. Instansi ini salah satunya ialah puskesmas, aparat desa dan kelurahan, serta dari Kemenag,” pungkasnya. (ADV/DISDIKBUDKUKAR)



