KAREBAKALTIM.com – Anggota DPRD Kota Bontang, Sumardi, menyoroti tingginya angka stunting di Kota Bontang yang mencapai 20,7 persen, jauh di atas target nasional sebesar 14 persen pada tahun 2024. Menurutnya, percepatan penanganan stunting harus menjadi prioritas utama dengan melibatkan semua pihak agar target penurunan tercapai.
“Stunting ini harus ditangani serius. Semua pihak harus bekerja sama dan bersinergi untuk menurunkan angka stunting,” kata Sumardi.
Sumardi juga menekankan pentingnya peran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang tergabung dalam Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kota Bontang. Ia mengingatkan agar anggaran yang dialokasikan untuk penanganan stunting tepat sasaran demi mencapai hasil yang efektif.
“Jika ada anggaran yang tidak pada tempatnya, lebih baik dialihkan untuk penanganan stunting,” tegasnya.
Menanggapi program pemberian telur kepada balita stunting yang dilakukan Pemerintah Kota Bontang, Sumardi menyebutkan bahwa program tersebut hanya bersifat sementara dan tidak cukup untuk mengatasi akar permasalahan. Ia mengusulkan perlunya pendataan dan pemetaan yang akurat terkait kasus stunting di berbagai wilayah.
“Jika wilayah pesisir Bontang memiliki kasus stunting terbanyak, maka penanganan di wilayah tersebut harus menjadi prioritas. Pengalokasian dana stunting harus tepat untuk wilayah yang paling membutuhkan,” ujarnya.
Sumardi optimis Kota Bontang bisa mencapai target nasional penurunan stunting. Luas wilayah yang tidak terlalu besar dan ketersediaan anggaran yang memadai menjadi modal penting dalam penanganan stunting. Selain itu, dukungan dari berbagai perusahaan di Bontang juga menjadi faktor signifikan.
“Kita harus fokus menangani wilayah pesisir agar Bontang bebas dari stunting, sehingga anak-anak bisa tumbuh sehat dan menjadi generasi penerus bangsa yang berkualitas,” tutup Sumardi.
Penulis : Aji
